Pengelolaan Sampah di Kota Kediri Jadi Rujukan Demak
Kota Kediri kembali mencuri perhatian bukan karena geliat kotanya semata, melainkan karena cara daerah ini mengelola sampah organik secara lebih terarah. Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, datang langsung untuk mempelajari praktik pengelolaan sampah di kota yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kenyamanan warga dan kelestarian lingkungan. Bagi Demak, Kediri bukan sekadar kota tujuan studi tiru, tetapi juga contoh bagaimana sampah bisa diubah menjadi manfaat nyata, terutama untuk pertanian dan perawatan ruang hijau.
Kompos dari Sampah Organik Jadi Andalan
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Anang Kurniawan, menjelaskan bahwa pemerintah kota sudah menjalankan sejumlah terobosan dalam pengelolaan sampah, terutama sampah organik. Salah satunya adalah pengolahan sampah menjadi kompos. Di Hutan Kota, proses pengomposan masih dilakukan secara tradisional sehingga memerlukan waktu sekitar 2-3 bulan.
Kompos yang dihasilkan tidak dibiarkan begitu saja. Hasil olahan itu dimanfaatkan untuk memupuk taman-taman di Kota Kediri. Selain itu, pemkot juga menjalin kolaborasi dengan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R, sehingga pemilahan sampah bisa dilakukan lebih awal dan kebutuhan pupuk kompos dapat dipenuhi dari beberapa sumber.
Demak Pelajari Pengelolaan Sampah dan Budidaya Magot
Kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Demak tidak hanya berfokus pada sampah organik di Hutan Kota. Mereka juga ingin mendalami budidaya magot yang dikelola di TPS Balowerti. Menurut Anang, studi tiru ini menjadi ruang berbagi ilmu dan pengalaman agar praktik pengelolaan sampah yang sudah berjalan di Kediri bisa memberi inspirasi bagi daerah lain.
“Kunjungan kerja ini dilakukan dalam rangka sharing ilmu dan pengalaman tentang pengelolaan sampah, khususnya sampah organik yang ada di Hutan Kota. Selain itu mereka juga ingin mengetahui pemeliharaan magot yang ada di TPS Balowerti,” katanya di Kediri, Kamis.
Volume Sampah Capai 140 Ton per Hari
Di balik berbagai inovasi itu, Kota Kediri tetap menghadapi tantangan besar. Volume sampah di daerah ini bisa mencapai 140 ton per hari dan seluruhnya ditampung di TPA Klotok. Karena itu, pemkot terus mendorong program pengelolaan sampah agar beban pembuangan berkurang dan sampah yang ada masih bisa diolah kembali menjadi sesuatu yang berguna.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, Moh Ridodin, menilai Kota Kediri layak dijadikan barometer. Selain tertarik pada pengolahan sampah, pihaknya juga ingin memahami kiat Kediri meraih predikat Kota Paling Berkelanjutan dalam Universitas Indonesia (UI) Green City Metric 2022. Menurut dia, status itu menunjukkan bahwa Kota Kediri mampu menjaga kenyamanan, keamanan, dan keseimbangan lingkungan secara lebih baik.
Ridodin berharap pengalaman dari Kediri dapat diterapkan di wilayahnya, terutama dalam penanganan sampah organik. Ia menilai pertukaran pengetahuan antar-pemerintah daerah seperti ini penting untuk melahirkan solusi yang lebih strategis dan sesuai kebutuhan lapangan.
Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2023
