Paviliun Indonesia merupakan sarana diplomasi lunak pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC. Dalam acara penutupannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab Husin Bagis menegaskan bahwa Paviliun Indonesia memperlihatkan kebijakan dan aksi menghadapi perubahan iklim, serta membuktikan komitmen Indonesia dalam negosiasi global.
Sebanyak 77 sesi diskusi panel dengan pembicara dari berbagai latar belakang menunjukkan semakin banyaknya aktor selain pemerintah yang terlibat dalam aksi mitigasi perubahan iklim. Paviliun Indonesia telah menekankan pentingnya peran sektor kehutanan dan penggunaan lahan (forestry and other land use) untuk mencapai target pengurangan emisi pada penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim sebelumnya di Glasgow, Inggris, dan Sharm El-Sheikh, Mesir.
Pada COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab, Paviliun Indonesia mulai mempromosikan aksi dan komitmen untuk penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi. Hal ini termasuk kemitraan transisi energi yang adil (just energy transition partnership), pendanaan gabungan (blended finance), pemanfaatan energi baru dan terbarukan, serta pelibatan masyarakat dan generasi muda.
Selain itu, penampilan kekayaan budaya seperti tari-tarian dan kuliner dari berbagai daerah turut memperkuat misi diplomasi lunak Paviliun Indonesia melalui sesi-sesi diskusi yang digelar. Total ada 379 pembicara pada 77 sesi diskusi yang digelar di Paviliun Indonesia, yang melibatkan aktor dalam aksi iklim mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, LSM, masyarakat, hingga generasi muda.
Sesi diskusi yang digelar di Paviliun Indonesia mencakup berbagai isu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dari hulu-hilir, landscape-seascape, individu-kelompok termasuk pelaku usaha, hingga gender dan generasi muda. Artikel ini disusun oleh Sugiharto Purnama dan disunting oleh Budhi Santoso.

