Prabowo Subianto: Prabowo Subianto adalah nama yang sangat dikenal dalam lingkungan TNI Angkatan Darat pada era Orde Baru. Beliau adalah seorang tokoh kunci yang mendukung rezim Orde Baru di masa awal pemerintahan. Pak Kemal Idris, bersama dengan Letnan Jenderal TNI HR Dharsono, Surono, dan Kolonel Infanteri Sarwo Edi Wibowo, adalah tokoh-tokoh penting yang memberikan dukungan kepada Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, setelah peristiwa G30S/PKI.
Pak Kemal Idris, yang merupakan sahabat dekat dari paman Prabowo, Subianto Djojohadikusumo, adalah figur yang sering disebut dalam keluarga Prabowo. Pak Kemal Idris dan Pak Subianto gugur dalam peristiwa Lengkong, dan ketika Prabowo bertemu dengannya, beliau mendorong Prabowo untuk mengikuti jejak paman dan ayahnya dalam menjadi sosok yang berani dan tangguh.
Kemal Idris adalah seorang patriotik, pemberani, lurus, terbuka, dan sangat pro rakyat. Batalyon Kemal Idris, yang dipimpin oleh beliau, merupakan batalyon TNI pertama yang masuk ibu kota setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia. Kemal Idris juga terlibat dalam peristiwa 17 Oktober 1952, di mana batalyonnya ikut mengepung istana. Beliau sangat membenci korupsi dan kerap mengkritik atasan, sehingga sering dianggap “anak bandel” oleh senior-senior beliau.
Meskipun memiliki kekurangan dalam mengambil keputusan dan kesimpulan yang terlalu cepat, Kemal Idris tetap dikenang karena sifat terbuka, humoris, jujur, dan berpihak kepada rakyat kecil. Prabowo banyak belajar tentang kepemimpinan dari sosok Kemal Idris. Saat beliau sakit, Prabowo dihibur oleh beliau dan dihimbau untuk terus berjuang dan menjaga Republik Indonesia.
Pak Kemal Idris adalah sosok yang meninggalkan jejak yang mendalam dalam hidup Prabowo, dan kata-kata terakhir beliau kepada Prabowo, “jaga Republik ini, terima kasih,” sungguh menggugah hati Prabowo. Dengan beliau yang telah berpulang, Prabowo merasakan getaran jiwa beliau hingga saat-saat terakhir hidupnya.
