Astronomers temukan lautan mendidih di angkasa
Temuan terbaru dari teleskop luar angkasa James Webb Space Telescope (JWST) kembali mendorong batas cara astronom membaca dunia jauh di luar tata surya. Dari pengamatan terhadap sebuah eksoplanet, para ilmuwan menemukan jejak uap air, metana, dan karbon dioksida di atmosfernya. Kombinasi itu memunculkan dugaan kuat bahwa planet tersebut bisa jadi merupakan dunia air yang seluruh permukaannya diselimuti lautan.
Planet kecil, atmosfer rumit
Menurut laporan The Guardian pada 8/3, eksoplanet itu berdiameter sekitar dua kali Bumi dan berjarak kurang lebih 70 tahun cahaya dari kita. Tim peneliti dari University of Cambridge menilai susunan kimia yang terdeteksi konsisten dengan planet bertipe “hycean”, yakni dunia dengan lautan luas di bawah atmosfer kaya hidrogen.
Profesor Nikku Madhusudhan, yang memimpin analisis tersebut, mengatakan lautan di planet itu bisa memiliki suhu lebih dari 100 derajat Celsius. Ia menambahkan, pada tekanan atmosfer yang tinggi, air masih mungkin tetap cair, meski belum ada kepastian apakah kondisi seperti itu benar-benar layak huni.
TOI-270 d dan perdebatan soal air cair
Planet yang diamati dikenal sebagai TOI-270 d. Temuan ini juga memicu perbedaan tafsir di kalangan ilmuwan. Tim Kanada yang melakukan pengamatan tambahan menyebut mereka menemukan bahan kimia atmosfer yang sama, tetapi menilai planet itu terlalu panas untuk menyimpan air cair. Dalam pandangan mereka, suhu permukaan bisa mencapai 4.000 derajat Celsius, dengan permukaan batu yang diselimuti atmosfer sangat padat berisi hidrogen dan uap air.
Profesor Björn Benneke dari University of Montreal, yang terlibat dalam pengamatan lanjutan, juga meragukan hipotesis dunia hycean. Menurutnya, suhu planet itu terlalu hangat untuk air berada dalam bentuk cair, meski atmosfernya memang menunjukkan kandungan uap air yang besar.
Petunjuk dari absennya amonia
Bukti untuk dugaan adanya samudra di TOI-270 d antara lain berasal dari tidak ditemukannya amonia. Dalam atmosfer kaya hidrogen, amonia seharusnya muncul secara alami. Namun, zat itu larut dalam air, sehingga keberadaannya bisa berkurang jika ada lautan di bawah atmosfer.
Madhusudhan menjelaskan bahwa interpretasi tersebut membuka kemungkinan planet ini memiliki lautan air di bawah selubung atmosfer hidrogen. Meski begitu, ia menegaskan perlunya kehati-hatian agar temuan ini tidak langsung dianggap sebagai tanda kehidupan. “Mudah bagi publik untuk menganggap bahwa kita sudah menemukan kehidupan,” ujarnya.
Jo Barstow, astronom dari Open University yang tidak terlibat dalam riset itu, menilai spektrum planet kecil yang diperoleh JWST sangat menarik karena mewakili lingkungan yang tidak punya padanan di tata surya. Ia menambahkan, observasi lanjutan terhadap kadar uap air di atmosfer akan sangat membantu memperjelas apakah benar ada lautan di sana. Source link
