Komposisi kursi kabinet Prabowo-Gibran kembali menjadi sorotan, terutama setelah muncul pembahasan soal pembagian jatah bagi partai-partai di Koalisi Indonesia Maju. Di tengah dinamika itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai ada partai yang secara politik lebih pantas memperoleh porsi lebih besar dibanding Partai Demokrat.
Golkar dan PAN Dinilai Lebih Rasional
Menurut Dedi, Partai Golkar memiliki alasan politik yang lebih kuat untuk mendapat kursi kabinet terbanyak di antara partai koalisi. Ia menilai posisi Golkar lebih rasional jika dibandingkan dengan Demokrat dalam konteks pembagian jatah menteri pada pemerintahan Prabowo-Gibran.
Penilaian serupa juga ia arahkan kepada Partai Amanat Nasional atau PAN. Dedi menyebut PAN lebih layak memperoleh kursi menteri dalam jumlah lebih banyak karena dukungannya terhadap Prabowo-Gibran dinilai konsisten sejak awal.
Demokrat Dinilai Tak Pantas Menyamakan Jatah
Karena itu, Dedi menilai tidak tepat jika Partai Demokrat meminta jatah kursi menteri disetarakan dengan Golkar maupun PAN. Ia menegaskan bahwa dari sisi kalkulasi politik, Demokrat berada di bawah dua partai tersebut dalam urusan kelayakan memperoleh kursi kabinet.
Dalam pandangannya, PAN bahkan masih berada di atas Demokrat ketika bicara soal kontribusi dan konsistensi dukungan kepada pasangan Prabowo-Gibran. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa pembagian kursi kabinet tidak semestinya hanya dilihat dari status keanggotaan koalisi, tetapi juga dari bobot dukungan politik masing-masing partai.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
