GRAND GENERAL TNI (RET.) H. M. SUHARTO

Date:

Grand General TNI (Ret.) H. M. Suharto

Pak Harto dikenal bukan hanya sebagai sosok yang berkuasa, tetapi juga sebagai pribadi yang sangat disiplin, rapi, dan nyaris tak pernah lepas dari rutinitas kerja. Dari pengamatan saya, ia bangun sangat pagi, tiba di kantor tepat pukul 08.00, lalu menjalani hari dengan jadwal yang tertata ketat. Siang hari ia pulang untuk makan, sore kadang bermain golf tiga kali dalam sepekan, lalu malamnya kembali menerima tamu sebelum masuk ke ruang kerja sekitar pukul 21.35, setelah acara Dunia Dalam Berita di TVRI selesai. Kebiasaannya itu berlangsung bertahun-tahun, bahkan ketika banyak orang lain sudah beristirahat.

Kerja Sunyi di Balik Meja Kecil

Ruang kerja Pak Harto tergolong sangat kecil, begitu juga meja kerjanya. Di atas meja itu, setiap malam menumpuk map dan surat setinggi 40-50 sentimeter. Dari keterangan para ajudannya, sedikitnya 40 folder dan surat ia baca serta tandatangani setiap malam, dari Minggu sampai Jumat. Baru pada Sabtu malam ia tidak terlihat di meja itu. Saya sering melihatnya bekerja hingga pukul 01.00 atau bahkan 02.00 dini hari, lalu bangun lagi pukul 04.30 atau paling lambat 05.00. Dengan pola seperti itu, ia hanya tidur 3-4 jam, dan itu berlangsung selama puluhan tahun.

Selain tekun, ia juga terkenal dengan tulisan tangan yang rapi, ingatan yang luar biasa, dan kemampuan menghitung yang sangat baik. Pak Harto adalah pembaca yang rajin. Karena itu pula ia mendorong orang untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk ke luar negeri, meski dirinya sendiri tidak pernah menempuh pendidikan di luar negeri.

Pengalaman Militer yang Membentuk Cara Pandangnya

Saya menjadi menantu Pak Harto pada 1983. Saat itu saya masih berpangkat kapten dan sudah dua kali menjalani operasi di Timor Timur. Pertama pada 1976 sebagai Komandan Peleton Grup 1 KOPASSANDHA yang tergabung dalam tim Nanggala 10 di bawah Mayor Infanteri Yunus Yosfiah. Kedua pada 1978 ketika saya memimpin Kompi Para-Komando dengan sandi Chandraca 8. Pasukan saya saat itu menjadi kompi serbu di bawah komando sektor, mula-mula di bawah Kolonel Infanteri R.K. Sembiring Meliala di sektor timur, lalu di bawah Letnan Kolonel Infanteri Sahala Rajagukguk di sektor tengah.

Ketika saya diangkat menjadi Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328/KOSTRAD pada 1985, Pak Harto sempat menjelaskan panjang lebar pengalaman membentuk, merekrut, melatih, dan membina batalyon tempur. Ia menguraikan pengalamannya sebagai komandan regu, komandan peleton, komandan kompi, hingga perwira operasi batalyon dengan sangat rinci. Bahkan, ia masih mengingat tingkat pendidikan para bawahannya dulu. Saya tercengang mendengarnya, apalagi saat itu sudah 17 tahun ia meninggalkan dinas aktif dan 35 tahun berlalu sejak masa perang kemerdekaan.

Tiga Nasihat yang Dipegang Seumur Hidup

Dalam sebuah kesempatan sebelum batalyon saya berangkat operasi ke Timor Timur, saya dipanggil ke kediaman Pak Harto di Jalan Cendana. Para perwira di batalyon sempat berharap ada bantuan dana seperti biasanya, karena dalam tradisi tertentu sang komandan kerap memberi sangu untuk meringankan logistik. Namun yang saya terima justru tiga wejangan singkat: ojo lali, ojo dumeh, dan ojo ngoyo. Setelah itu, ia menangkupkan tangan di atas kepala saya, seperti doa dan restu yang biasa ia berikan kepada anak, cucu, dan orang-orang terdekatnya.

Sesampainya kembali di Cilodong, saya menyampaikan kepada para perwira bahwa pertemuan itu hanya berlangsung lima menit. Tidak ada uang, hanya tiga pesan: jangan lupa, jangan sombong, jangan memaksakan diri. Awalnya saya sempat terdiam, bahkan agak kecewa. Tetapi sepanjang perjalanan pulang, saya baru benar-benar menangkap bobot nasihat itu. Dari seorang panglima yang ditempa perang, tiga kalimat pendek itu terasa jauh lebih mahal daripada bantuan apa pun.

Itulah sebabnya, setiap kali satuan 328 menjalankan operasi, tiga wejangan itu kami tulis di peta pos komando. Bagi saya, pesan itu bukan sekadar petuah Jawa, melainkan pegangan praktis untuk bertahan hidup, memimpin pasukan, dan menjaga nalar tetap jernih di tengah tekanan.

Disiplin, Diam, dan Cara Mengambil Keputusan

Pak Harto juga dikenal jarang marah. Hampir selalu ia tersenyum. Kalau pun marah, justru ia menjadi diam. Ia tidak suka berbicara dengan orang yang sedang dalam keadaan emosi. Sikap itu pernah saya lihat langsung dalam satu peristiwa makan malam bersama Pak Harto dan Ibu Tien. Saat itu Ibu Tien menyinggung soal pergantian Kepala Staf Angkatan Darat. Ia mengusulkan nama Dading, tetapi Pak Harto tidak menanggapi. Keesokan malam pertanyaan itu kembali muncul, dan lagi-lagi ia hanya menjawab singkat bahwa ia masih mempertimbangkannya.

Barulah kemudian diketahui bahwa yang ditunjuk adalah Jenderal Rudini. Saat Ibu Tien mengeluh karena sarannya tidak dipakai, Pak Harto menjawab tenang bahwa memilih pemimpin tidak boleh hanya berdasarkan penampilan. Ada banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. Dari situ saya melihat satu hal penting: keputusan besar disimpan rapat-rapat, bahkan dari orang terdekat, sampai waktunya diumumkan.

Di balik semua itu, Pak Harto tetap memegang kuat filosofi Jawa dan sejarah Nusantara. Ia kerap mengajarkan ojo dumeh, ojo lali, ojo ngoyo, ojo adigang, adigung, adiguna, juga ojo kagetan, ojo gumunan, dan sing becik ketitik sing olo ketoro. Buku yang ia terbitkan, Butir-Butir Budaya Jawa, menurut saya penting untuk memahami watak budaya Indonesia, karena ajaran itu bukan slogan kosong, melainkan panduan hidup yang sangat membumi.

Share post:

Subscribe

Popular

Terbaru
Terbaru

Prabowo Minta Tindakan Tegas Penegakan Hukum – Satgas PKH Laporkan Pelanggaran Hutan

Prabowo Minta Penegakan Hukum yang Tegas terhadap Pelanggaran Hutan Menteri...

Penyelundupan Lobster dan Vilmei TikTok: Kejahatan Kemarin

5 Peristiwa Kriminal Di Jakarta: Dari Akun TikTok Vilmei...

ASUS ROG Memamerkan Monitor OLED 720Hz Terbaru di Gamescom 2026

ASUS Perkenalkan Monitor Gaming OLED 720Hz di Gamescom 2026 ASUS...