Anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq, mengajukan permintaan kepada Kementerian Agama terkait pernyataan kontroversial dari Gus Miftah yang mengolok-olok penjual es teh di Magelang, Jawa Tengah. Olokan tersebut mendapat kecaman luas, memicu klarifikasi dari pihak istana. Maman menyatakan bahwa tindakan menghina tukang es oleh seorang juru dakwah seharusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak. Ia menegaskan perlunya melakukan sertifikasi terhadap juru dakwah agar memiliki pemahaman yang benar terhadap nilai-nilai agama dan tidak melanggar etika dalam berdakwah.
Menurut Maman, dakwah harus didasarkan pada sumber nilai keagamaan seperti Al-Quran, Hadis, dan sumber-sumber klasik lainnya. Ia menyoroti pentingnya tema-tema agama yang dibawakan dalam ceramah, serta larangan menggunakan bahasa kasar atau bercanda yang mengolok-olok orang lain. Maman juga menekankan pentingnya pengawasan baik dari masyarakat maupun Kementerian Agama terhadap para pendakwah. Jika ada pelanggaran, perlu ada teguran dan sanksi yang diberikan.
Selain itu, Maman menyarankan adanya pelatihan bagi juru dakwah sebelum mendapatkan sertifikasi resmi. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki kapasitas yang memadai untuk menyampaikan ajaran agama dengan benar. Harapannya adalah agar dakwah yang disampaikan tidak merusak nilai-nilai agama yang sejatinya luhur. Aksi mengolok-olok atau merendahkan orang lain tidak seharusnya menjadi bagian dari dakwah yang seharusnya memberikan kedamaian dan kebaikan bagi semua pihak.
