Polemik yang melibatkan Kepala Desa Sungai Ambawang Kuala, Asmadi, memantik reaksi keras dari Pemuda Pancasila dan sejumlah organisasi lintas etnis di Kabupaten Kubu Raya. Mereka menilai persoalan pribadi yang dibawa ke ranah organisasi justru berisiko memperlebar ketegangan dan mengganggu kerukunan yang selama ini dijaga bersama.
Dinilai Tidak Tepat Bawa Urusan Pribadi ke Organisasi
Pengurus MPC Pemuda Pancasila Kubu Raya, Rudi Halik, menegaskan bahwa masalah yang dihadapi Asmadi semestinya diselesaikan dalam kapasitasnya sebagai kepala desa, bukan dengan menyeret nama organisasi keagamaan atau kesukuan. Menurut dia, langkah tersebut tidak hanya keliru, tetapi juga bisa menimbulkan tafsir yang salah di tengah masyarakat.
Asmadi, yang juga menjabat Ketua Laskar Pemuda Melayu (LPM) Kubu Raya, dinilai telah mengalihkan konflik pribadinya dengan anggota DPRD Kalbar ke dalam ruang organisasi kesukuan. Bagi Rudi, tindakan seperti itu seharusnya dihindari karena berpotensi memancing reaksi berantai di luar konteks persoalan awal.
Diminta Tempuh Jalur Hukum, Bukan Memperluas Konflik
Rudi menyarankan Asmadi untuk melaporkan persoalan yang dihadapinya kepada aparat penegak hukum jika memang merasa dirugikan. Menurutnya, jalur hukum adalah cara yang lebih tepat ketimbang membawa masalah ke organisasi yang memiliki basis identitas tertentu.
Ia juga mengingatkan agar organisasi kesukuan tidak mudah mengeluarkan pernyataan yang justru dapat memperkeruh keadaan. Dalam situasi seperti ini, kata Rudi, sikap menahan diri jauh lebih penting daripada memperbesar konflik yang sebetulnya bisa diselesaikan secara terbuka dan tertib.
Kerukunan Kubu Raya Harus Dijaga
Rudi menekankan bahwa masyarakat Kubu Raya perlu tetap menjaga hubungan baik antar etnis dan agama. Ia mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap siapa pun yang mencoba memprovokasi atau menyebarkan isu SARA, karena hal itu bisa merusak suasana damai di daerah tersebut.
Menurut dia, Kubu Raya tidak boleh dibiarkan terseret ke dalam perselisihan yang dipicu kepentingan pribadi. Yang dibutuhkan saat ini adalah ketenangan, kehati-hatian dalam berucap, serta komitmen semua pihak untuk tidak menjadikan identitas sebagai alat memperuncing masalah.
