JAKARTA – Industri telekomunikasi Indonesia tengah bergeser dari sekadar jualan paket data menuju layanan digital yang lebih luas. Presiden Direktur Smartfren, Merza Fachys, menegaskan bahwa outlook industri telko pada 2025 tidak lagi bisa dibaca hanya dari konsumsi internet masyarakat, melainkan juga dari pertumbuhan bisnis digital yang dinilai akan semakin dominan.
Telko Tak Lagi Hanya Soal Gigabyte
Menurut Merza, perubahan besar di industri ini menandai bahwa operator tidak cukup hanya mengandalkan trafik data. Arah bisnis telekomunikasi kini bergerak ke layanan digital yang lebih bernilai, seiring kebutuhan pasar yang terus berubah. Ia melihat tren ini sebagai sinyal bahwa sektor telko sedang masuk ke fase baru, di mana teknologi dan layanan digital punya peran yang makin besar dalam menopang pendapatan.
AI dan Big Data Jadi Pendorong Baru
Merza juga menyoroti peran teknologi baru seperti Artificial Intelligence dan big data dalam mendorong pertumbuhan industri. Dua teknologi tersebut dinilai bisa membuka ruang pendapatan baru bagi operator, sekaligus memperluas cara perusahaan telekomunikasi membangun bisnis di luar layanan konvensional. Dengan kata lain, nilai industri telko ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar konsumsi internet, tetapi juga seberapa jauh operator mampu memanfaatkan data dan teknologi digital.
Merger Smartfren dan XL Axiata Masuk Tahap Penyesuaian
Dalam konteks perubahan itu, penggabungan Smartfren dan XL Axiata menjadi XL Smart menjadi langkah strategis yang diambil perusahaan. Meski demikian, Merza menegaskan bahwa ketiga produk yang ada tetap dipertahankan. Ke depan, segmentasi produk kemungkinan akan disesuaikan mengikuti arah merger dan strategi bisnis baru yang tengah dibangun. Pergeseran ini menunjukkan bahwa industri telekomunikasi kini bergerak lebih kompleks, bukan hanya bersaing dalam jaringan, tetapi juga dalam kemampuan membaca peluang digital yang terus berkembang.
