Menjelang pelantikan Donald Trump, raksasa teknologi seperti Meta Platforms (Facebook, Instagram, WhatsApp) dan Amazon mulai mengurangi program keberagaman dalam lingkungan kerja. Hal ini dilakukan sebagai tanggapan terhadap perlawanan kubu konservatif yang dipimpin oleh Partai Republik terhadap inisiatif keberagaman di perusahaan-perusahaan teknologi. Ada enam perusahaan AS yang diketahui telah mengubah kebijakan internal mereka untuk mendorong representasi ras dan etnis di dalam perusahaan. Upaya untuk meningkatkan kebijakan inklusivitas ini dipicu oleh protes atas kasus George Floyd dan warga kulit hitam AS lainnya pada tahun 2020.
Meta Platforms telah mengakhiri program keberagaman perusahaan yang akan memengaruhi proses rekrutmen dan pelatihan karyawan. Sementara itu, Amazon juga mengumumkan bahwa mereka akan mengurangi program inklusi yang sudah ada sejak lama. Kelompok konservatif, termasuk Musk dan sekutu Trump, menentang program keberagaman dan mengklaim bahwa hal itu dapat menghambat respons terhadap bencana alam seperti kebakaran hutan di Los Angeles. Amazon dan Meta Platforms juga telah menunjukkan perubahan dalam kepemimpinan perusahaan mereka, dengan Amazon mengumumkan pengurangan program inklusi dan Meta Platforms menunjuk Joel Kaplan, seorang tokoh Republik yang juga CEO dari UFC, sebagai Chief Global Affairs perusahaan.
Dengan langkah-langkah ini, perusahaan-perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat berupaya untuk menyesuaikan diri dengan tekanan politik dan opini publik yang berkembang terkait keberagaman dan inklusi di lingkungan kerja. Respons ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk menyeimbangkan posisi perusahaan di tengah perubahan politik yang terjadi di Amerika Serikat, terutama menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden AS. Selain itu, langkah ini juga sebagai bentuk upaya menyesuaikan diri dengan valuasi konservatif yang semakin kuat di Amerika Serikat, terutama di kalangan perusahaan teknologi.

