Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan efek yang lebih luas dari sekadar pemenuhan asupan gizi. Di balik distribusi makanan untuk siswa, ibu hamil, dan balita, program ini juga memunculkan pergerakan ekonomi baru lewat serapan tenaga kerja yang terus membesar di berbagai daerah.
Serapan tenaga kerja melonjak seiring perluasan SPPG
Sejak diluncurkan, MBG tercatat telah menyerap 94 ribu tenaga kerja langsung yang tersebar di 2.391 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia. Angka ini naik tajam dibanding awal pelaksanaan pada Januari, ketika tenaga kerja yang terserap baru sekitar 7 ribu orang.
Pertumbuhan itu berjalan seiring bertambahnya jumlah SPPG di daerah. Semakin banyak dapur layanan gizi beroperasi, semakin besar pula kebutuhan pekerja untuk mendukung produksi, distribusi, dan operasional program. Dari sisi anggaran, serapan dana juga ikut meningkat, dari kisaran Rp1-2 triliun pada fase awal menjadi Rp5,1 triliun pada akhir semester I 2025.
Dorongan ekonomi dari belanja program pemerintah
Tenaga Ahli Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Fithra Faisal, menilai MBG memberi dampak nyata bagi ekonomi masyarakat karena membuka banyak lapangan kerja baru. Menurut dia, tren penyerapan tenaga kerja masih berpeluang terus naik, terutama jika pencairan anggaran pada semester II tahun ini berjalan lebih cepat.
Di lapangan, program ini bukan hanya menggerakkan tenaga kerja di pusat layanan, tetapi juga menciptakan kebutuhan turunan yang ikut menghidupkan aktivitas ekonomi lokal. Dengan skala program yang terus membesar, efeknya terhadap perputaran uang di masyarakat diperkirakan semakin terasa.
Target Agustus dan rencana perekrutan keluarga miskin
Badan Gizi Nasional (BGN) memproyeksikan pada Agustus nanti jumlah penerima manfaat MBG akan mencapai 20 juta orang yang dilayani melalui 8 ribu SPPG. Jika target itu tercapai, total anggaran yang terserap diperkirakan menembus Rp8 triliun.
BGN juga menyiapkan langkah tambahan dengan merekrut tenaga kerja dari kalangan keluarga miskin. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya membantu operasional program, tetapi juga memberi jalan keluar bagi kelompok rentan untuk ikut terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif.
Di tengah sorotan terhadap manfaat gizi, MBG mulai dipandang sebagai program yang punya dua wajah sekaligus: memperbaiki asupan masyarakat dan mendorong penyerapan tenaga kerja dalam skala besar. Jika ekspansi SPPG dan pencairan anggaran berjalan sesuai rencana, dampak ekonominya berpotensi makin terasa pada paruh kedua 2025.
Source link
