Kerugian finansial akibat penipuan siber ternyata cukup besar, menurut informasi dari Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Beliau mengungkapkan bahwa kerugian finansial tersebut terjadi dalam rentang waktu November 2024 hingga Januari 2025. Lebih dari separuh penipuan siber terjadi di kanal seluler, dimana 50% di antaranya menggunakan modus malware dan penipuan lewat SMS. Total kerugian finansial mencapai angka fantastis, yaitu sebesar Rp 476 miliar hanya dalam kurun waktu yang singkat. Nezar menyampaikan hal ini dalam acara ‘AI untuk Kita Semua’ di kantor Indosat, Jakarta. Hingga pertengahan tahun ini, Komdigi mencatat telah menerima 1,5 juta laporan penipuan digital. Ini menjadi peringatan bahwa tindakan cepat diperlukan. Pemerintah berkomitmen penuh untuk menciptakan ruang digital yang aman, bersih, dan berjaya bagi seluruh masyarakat. Sebagai langkah untuk mengatasi masalah penipuan digital, Komdigi bersinergi dengan industri, termasuk Indosat Ooredoo Hutchison, untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari scam dan spam.
Dalam rangka melawan penipuan digital, Indosat Ooredoo Hutchison memperkenalkan fitur anti-spam Vision AI. Fitur ini mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi ancaman secara virtual secara real-time tanpa intervensi manusia, serta memberikan peringatan dini terhadap potensi risiko. Vision AI, dikatakan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, dibangun di dalam negeri dengan menggunakan teknologi canggih dari GPU Nvidia Blackwell di AI Factory milik Indosat yang berada di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa Vision AI adalah buatan dalam negeri, bukan hasil impor atau resell dari luar, serta seluruhnya dilatih oleh talenta Indonesia. Jadi, Vision AI merupakan langkah konkret dalam melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman penipuan digital yang semakin marak.
