Pramono-Rano Dinilai Mulai Menyentuh PR Lama Jakarta yang Selama Ini Menggantung
Pemimpin baru Jakarta, Pramono-Rano, mulai mendapat sorotan positif karena dinilai berani menyinggung kembali persoalan-persoalan lama yang tak kunjung selesai. Di tengah banyaknya pekerjaan rumah ibu kota, langkah ini dianggap penting karena menunjukkan bahwa pemerintah tidak memilih diam terhadap masalah yang selama bertahun-tahun terus diwariskan dari satu periode ke periode berikutnya.
Tiga isu lama kembali jadi perhatian
Ketua Forum Bersama Jakarta (FBJ), Budi Siswanto, menyebut ada sejumlah isu yang kembali mengemuka dan selama ini menjadi beban Jakarta, yakni tiang monorel, lahan RS Sumber Waras, serta aksesibilitas Jakarta International Stadium (JIS). Menurut dia, tiga persoalan tersebut bukan sekadar catatan administratif, melainkan simbol dari agenda besar yang belum benar-benar dituntaskan.
Di Sekretariat FBJ, Jakarta Selatan, Budi menegaskan bahwa keberanian membuka kembali persoalan lama merupakan langkah yang patut diapresiasi. Ia menilai, penyelesaian masalah yang berlarut-larut akan menjadi salah satu ukuran awal apakah kepemimpinan Pramono-Rano benar-benar ingin membenahi Jakarta secara menyeluruh.
Dinilai lebih terbuka terhadap masukan
FBJ juga menyoroti sikap Pramono-Rano yang dianggap cukup terbuka terhadap pandangan dari berbagai pihak. Bagi Budi, keterbukaan seperti ini penting karena persoalan Jakarta terlalu kompleks jika hanya dikerjakan oleh pemerintah tanpa dukungan masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan elemen publik lainnya.
Ia menambahkan, peran masyarakat bukan sekadar memberi dukungan, tetapi juga menjaga agar kebijakan tetap berada di jalur yang tepat. Dalam pandangan FBJ, kontrol sosial semacam itu justru dibutuhkan agar program pemerintah tidak kehilangan arah di tengah besarnya tantangan kota metropolitan.
Kolaborasi dinilai jadi penentu arah Jakarta
Budi mengatakan, berbagai program yang dijalankan Pemprov DKI saat ini menunjukkan adanya upaya untuk memperkuat pelayanan publik, meningkatkan kesejahteraan warga, dan menjaga stabilitas pembangunan. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak akan datang hanya dari kerja eksekutif semata.
Menurut FBJ, masa depan Jakarta akan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah membangun kerja sama yang sehat dengan warga. Kolaborasi disebut menjadi kunci agar masalah-masalah lama tidak terus menumpuk, sekaligus membuka jalan bagi penataan kota yang lebih serius dan terukur.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
