Seorang pengemudi taksi daring berinisial LPT (41) resmi melaporkan pemilik akun TikTok ke Polres Metro Depok setelah namanya terseret tuduhan mencuri akun gim daring. Kasus ini bermula dari percakapan yang awalnya tampak biasa, namun kemudian berubah menjadi persoalan serius ketika video dan narasi yang beredar di media sosial justru menyeret LPT sebagai pihak yang disalahkan.
Awal Masalah dari Pesanan yang Berubah Arah
Kuasa hukum LPT, Risky Nugroho, menjelaskan peristiwa itu terjadi saat kliennya menunggu pelanggan di Depok pada Rabu (25/2). Ketika aplikasi taksi online berbunyi, LPT kemudian berkomunikasi dengan pembeli akun TikTok tersebut. Dalam percakapan itu, pembeli akun meminta LPT menyampaikan pesan kejutan ulang tahun kepada adiknya.
Belakangan, LPT diminta berpura-pura sebagai pembeli akun gim Mobile Legends dan dijanjikan tip sebesar Rp100.000. Namun, keadaan berubah ketika pembeli akun meminta LPT mentransfer uang Rp34 juta sebagai biaya akun gim ML. Permintaan itu disebut berada di luar skenario yang sebelumnya disepakati. Dari titik inilah kesalahpahaman berkembang menjadi tuduhan bahwa LPT mencuri akun gim.
Nama Baik Terganggu Setelah Video Viral
Menurut pihak LPT, tuduhan yang kemudian viral di TikTok itu menimbulkan kerugian serius. Bukan hanya soal reputasi, tetapi juga stigma di lingkungan sekitar, tekanan psikologis, serta kerugian non-materiil lainnya. Dalam situasi seperti ini, penyebaran informasi di media sosial dinilai jauh lebih cepat daripada klarifikasi yang seharusnya mengikuti.
Risky menegaskan, sebelum menempuh jalur hukum, pihaknya lebih dulu mengirim somasi kepada pemilik akun TikTok. Namun, somasi tersebut tidak dibalas dengan klarifikasi maupun permintaan maaf. Karena tidak ada itikad penyelesaian, laporan akhirnya diajukan ke Polres Metro Depok dengan nomor LP/B/473/III/2026/SPKT/POLRES METRO DEPOK/POLDA METRO JAYA.
Kasus Ini Jadi Contoh Risiko Trial by Social Media
Fenomena trial by social media kembali terlihat dalam kasus ini, ketika opini publik terbentuk lebih cepat daripada fakta yang utuh. Bagi LPT dan kuasa hukumnya, tantangan terbesar bukan hanya membuktikan duduk perkara, tetapi juga memulihkan nama baik yang sudah terlanjur tercoreng di ruang digital.
Di tengah derasnya arus konten viral, kasus LPT memperlihatkan bagaimana satu potongan cerita bisa berkembang menjadi tuduhan yang berat. Kini, proses hukum di Polres Metro Depok menjadi langkah yang ditempuh untuk mencari kejelasan sekaligus membuka ruang pemulihan atas tuduhan yang dinilai mencemarkan nama baiknya.
Source link
