DPR Sekarang Lebih Buruk dari Orde Baru: Analisis Terkini

Date:

Ekonom senior Didik J Rachbini melontarkan kritik keras terhadap kualitas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di era reformasi. Dalam diskusi daring Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita, ia menilai parlemen saat ini justru tampil lebih buruk dibanding masa Orde Baru, terutama dari sisi kualitas intelektual dan keberanian bersikap.

Didik: DPR Kini Cenderung Jadi “Yes Man”

Didik menyebut anggota DPR saat ini lebih sering mengikuti arus ketimbang menunjukkan sikap kritis. Menurutnya, situasi itu membuat DPR kehilangan daya tawar sebagai lembaga yang seharusnya menjadi penyeimbang kekuasaan. Ia bahkan menggambarkan banyak anggota dewan sekarang sebagai yes man, istilah yang ia gunakan untuk menyoroti kecenderungan patuh tanpa sikap independen.

Dalam pandangannya, kualitas anggota DPR juga mengalami kemunduran dibandingkan era sebelumnya. Ia menilai pada masa Orde Baru masih ada sosok-sosok yang memiliki kapasitas intelektual dan gagasan, meski ruang politik saat itu tetap berada dalam kontrol yang ketat.

Perbandingan dengan Era Orde Baru

Didik menegaskan bahwa meskipun Orde Baru memiliki banyak persoalan, parlemen kala itu masih diisi oleh figur-figur yang menurutnya punya ide dan latar belakang pemikiran yang lebih kuat. Sebaliknya, pada masa sekarang ia melihat pintu masuk ke DPR menjadi jauh lebih longgar, sehingga orang yang dinilainya tidak memiliki bekal pendidikan memadai pun bisa duduk di kursi parlemen.

Pernyataan itu disampaikan dalam forum yang juga menghadirkan Muhammad Isnur dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Bivitri Susanti selaku pakar hukum tata negara Jentera, serta Anis Hidayah dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Kehadiran para narasumber tersebut membuat diskusi berkembang ke isu yang lebih luas, mulai dari kualitas representasi politik hingga arah demokrasi pascareformasi.

Kritik yang Menyasar Arah Demokrasi

Di balik pernyataan tajamnya, Didik seolah ingin menegaskan bahwa persoalan DPR bukan sekadar soal individu, melainkan soal mutu sistem politik yang menghasilkan para wakil rakyat. Kritiknya memperlihatkan kegelisahan bahwa reformasi yang semestinya membuka ruang demokrasi justru belum otomatis melahirkan parlemen yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani bersuara.

Source link

Share post:

Subscribe

Popular

Terbaru
Terbaru

Prabowo Minta Tindakan Tegas Penegakan Hukum – Satgas PKH Laporkan Pelanggaran Hutan

Prabowo Minta Penegakan Hukum yang Tegas terhadap Pelanggaran Hutan Menteri...

Penyelundupan Lobster dan Vilmei TikTok: Kejahatan Kemarin

5 Peristiwa Kriminal Di Jakarta: Dari Akun TikTok Vilmei...

ASUS ROG Memamerkan Monitor OLED 720Hz Terbaru di Gamescom 2026

ASUS Perkenalkan Monitor Gaming OLED 720Hz di Gamescom 2026 ASUS...