Suhu Ekstrem Picu Lonjakan Harga Listrik di Sejumlah Wilayah AS
Suhu di sejumlah wilayah diperkirakan akan mencapai 105 derajat Fahrenheit (40,5 derajat Celsius), bahkan berpotensi memecahkan rekor suhu harian, bulanan, hingga sepanjang sejarah di beberapa daerah. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang tidak memiliki akses pendingin ruangan yang memadai.
Lonjakan Harga Listrik Akibat Konsumsi Tinggi untuk Pendingin Ruangan
Data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan harga listrik grosir pada Kamis, 2 Juli 2026, melonjak lebih dari 243 persen di wilayah New England dan 101 persen di New York City dibandingkan hari sebelumnya. Harga listrik juga naik hampir 55 persen di kawasan Midwest dan 45,6 persen di wilayah Mid-Atlantic. Lonjakan harga tersebut dipicu oleh meningkatnya konsumsi listrik untuk mengoperasikan pendingin ruangan.
Badan Cuaca Nasional AS (National Weather Service/NWS) memperingatkan bahwa tingkat kelembapan yang sangat tinggi membuat suhu terasa lebih panas dari kondisi sebenarnya, meningkatkan tekanan terhadap sistem kelistrikan. PJM Interconnection sebagai operator jaringan listrik terbesar di AS mengumumkan peringatan federal untuk mengurangi konsumsi listrik guna menjaga keandalan pasokan.
Imbauan dan Dampak pada Masyarakat
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengimbau warga agar mengatur penggunaan listrik dengan bijak dan menjaga tubuh tetap sejuk. Gelombang panas ini juga memengaruhi aktivitas masyarakat, seperti pembatalan parade perayaan 250 tahun berdirinya AS di Kota Philadelphia dan gangguan pada sektor transportasi.
Operator kereta Amtrak dan layanan New Jersey Transit mengalami keterlambatan dan pembatalan perjalanan akibat suhu ekstrem. Delta Air Lines memberikan kemudahan biaya perubahan jadwal penerbangan melalui Bandara LaGuardia, New York, selama periode panas ini.
Para ilmuwan menilai bahwa perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem, dengan emisi dari pembakaran bahan bakar fosil menjadi penyebab utama krisis iklim yang semakin terasa.
