Sudah Saatnya Memerdekakan Sektor Riil dari Tekanan
Saat ini, sektor riil sedang berjuang keras dalam menghadapi tekanan yang begitu berat. Lebih dari itu, sektor ini membutuhkan perhatian khusus untuk dapat bangkit. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak menambah masalah dengan mengganggu independensi Bank Indonesia.
BI Perlu Fokus, Begitu Pula dengan Kementerian Keuangan
Sebaiknya, BI fokus pada mengendalikan nilai tukar rupiah dan inflasi, sementara Kementerian Keuangan dan pihak terkait harus fokus membenahi kebijakan fiskal dan merumuskan kebijakan yang tepat untuk memulihkan sektor riil dan UMKM. Ketika sektor riil masih dalam kesulitan, mengganggu independensi sektor moneter hanya akan menambah rumit keadaan.
Tantangan Sektor Riil dan Badai Kepemimpinan BI
Saat ini, sektor riil sedang dihantui oleh gelombang kebangkrutan perusahaan manufaktur dan UMKM. Hal ini berdampak pada meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja yang terus terjadi. Di sisi lain, sektor moneter harus berhadapan dengan gejolak nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi yang harus dijaga dengan cermat.
Pada 27 Juli 2026, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengumumkan pengunduran dirinya. Hal ini menimbulkan pertanyaan di tengah publik. Sambil menunggu pengganti yang baru, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, akan memimpin BI.
Tantangan Kombinasi Sektor Moneter dan Fiskal
Dampak dari dinamika sektor fiskal juga mulai terasa ketika Kementerian Keuangan menarik sebagian dana SAL dari BI untuk memperkuat likuiditas perbankan. Meskipun langkah ini wajar, namun perlu dipertanyakan ketika terjadi penarikan dan pemindahan dana yang tidak efektif.
Upaya penguatan likuiditas perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit ke sektor bisnis dapat berhasil jika sektor riil juga mendapat perhatian yang sama. Faktor seperti tingginya biaya produksi, penurunan daya beli masyarakat, hingga masifnya penyelundupan produk manufaktur menjadi tantangan tersendiri yang harus segera diatasi.
Sektor riil yang kini menghadapi tekanan perlu pemulihan berkelanjutan dan koordinasi lintas sektor agar dapat bangkit kembali. Hanya dengan begitu, sektor ini akan mampu menyerap tawaran kredit dari sektor perbankan dengan lebih baik, dan ekonomi pun akan pulih secara menyeluruh.
Artikel ini dikutip dari sumber Link Sumber.
