Erupsi Gunung Anak Krakatau Membuat Indonesia Bergetar
Jakarta (ANTARA) – Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada awal September 2026 kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkaniknya meningkat dan abu erupsi berdampak hingga sejumlah wilayah di Indonesia. Bahkan, aktivitas penerbangan terganggu akibat sebaran abu vulkanik. Namun, pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah erupsi gunung api juga bisa memengaruhi suhu bumi?
Bagaimana Erupsi Gunung Api Mempengaruhi Suhu Bumi?
Pengaruh erupsi terhadap suhu global bergantung pada skala erupsi, jumlah gas yang terlepas, dan ketinggian material vulkanik di atmosfer. Meskipun abu vulkanik seringkali menjadi bayangan utama, gas sulfur dioksida (SO2)lah yang paling berpengaruh terhadap pendinginan global.
Ketika erupsi besar terjadi, sulfur dioksida bisa mencapai lapisan stratosfer dan membentuk partikel aerosol sulfat kecil yang bisa bertahan dalam waktu yang lama. Partikel ini memantulkan sinar matahari kembali ke angkasa, mengakibatkan turunnya suhu rata-rata global.
Contoh Erupsi Besar dan Dampaknya
Erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991 adalah contoh jelas bagaimana erupsi besar dapat membuat bumi menjadi lebih dingin. Gas sulfur dioksida yang dilepaskan ke atmosfer membentuk aerosol sulfat yang menyebabkan suhu permukaan bumi turun sekitar 0,5 derajat Celsius.
Tak hanya itu, erupsi Gunung Tambora di Indonesia pada tahun 1815 juga memberikan dampak besar terhadap iklim global. Erupsi Tambora membuat suhu bumi turun secara signifikan, bahkan menciptakan “tahun tanpa musim panas” pada tahun 1816 di sejumlah wilayah di belahan bumi utara.
Meskipun begitu, tidak semua erupsi membuat bumi menjadi dingin. Erupsi kecil yang hanya mengeluarkan abu dan gas dalam jumlah terbatas biasanya tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap suhu global.
Erupsi dan Perubahan Iklim
Erupsi gunung api bisa memengaruhi suhu bumi, terutama setelah erupsi eksplosif yang mampu melepaskan gas sulfur dioksida dalam jumlah besar ke stratosfer. Meskipun gas CO2 yang dilepaskan juga bisa memberikan efek pemanasan, efek pendinginan dari aerosol sulfat biasanya lebih terlihat dalam jangka pendek.
Vaiteiiy, meskipun erupsi gunung api dapat memengaruhi suhu bumi, erupsi ini bukanlah penyebab utama dari pemanasan global yang terjadi saat ini. Efek erupsi umumnya bersifat sementara dan bukan perubahan iklim permanen.
Jadi, erupsi gunung bisa memberikan dampak signifikan terhadap suhu bumi, terutama jika erupsinya besar dan mengeluarkan gas dalam jumlah besar. Namun, efeknya umumnya bersifat sementara.
