Ketergantungan global semakin memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur ekonomi dan sumber daya strategis negara dalam menghadapi disrupsi lintas-batas negara. Seperti diingatkan oleh Farrell dan Newman (2019), era arus keuangan, informasi, dan barang global melahirkan tantangan baru. Perang di Ukraina dan Iran memberikan gambaran nyata mengenai ancaman yang bisa timbul. Meski perang di kedua negara itu tidak berlangsung dalam skala penuh secara internasional, efeknya sangat terasa ke berbagai penjuru dunia.
Pada kasus Ukraina, krisis yang timbul menyebabkan kelangkaan pasokan pangan dunia. Mayoritas ekspor hasil pertanian Ukraina terhambat karena pelabuhan Laut Hitam tidak dapat digunakan secara normal, sehingga jalur distribusi beralih ke rute darat, sungai, dan pelabuhan negara sekitar. Namun, kapasitas pengganti ini tidak sepadan, sehingga pasokan global tetap terganggu (EPRS, 2022). Selain itu, tersendatnya input pupuk dari Rusia dan Belarus berdampak pada produksi pangan negara lain, yang pada akhirnya mengancam ketahanan pangan dunia (OECD, 2022).
Sementara itu, perang di Iran berimbas pada distribusi energi global. Selat Hormuz, sebagai salah satu jalur vital minyak dunia, menjadi titik rawan yang mudah diganggu tanpa harus dikuasai sepenuhnya. Hanya dengan mengancam kapal dan menyebabkan premi asuransi melonjak, perusahaan pelayaran banyak yang menunda operasi mereka. Alhasil, menurut International Energy Agency (2026), aliran minyak yang melintas di selat itu merosot drastis dari 20 juta menjadi 2,7 juta barel per hari, suatu catatan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi dunia.
Kasus Ukraina dan Iran ini membuktikan bahwa dalam sistem ekonomi global yang tersebar, masih ada titik-titik rawan yang jika terganggu dapat menyebabkan efek ganda yang luas. Farrell dan Newman menyebut fenomena ini sebagai “chokepoint effect”, di mana simpul-simpul vital dalam jaringan ekonomi sangat sulit digantikan bila terganggu. Kini, bukan hanya transit fisik seperti pelabuhan atau selat saja yang penting. Jaringan keuangan, semikonduktor, perangkat lunak, pusat data, dan hak kekayaan intelektual juga tercatat sebagai titik rawan strategis (Fishman, 2025). Jalur distribusi bisa lumpuh akibat sanksi, pemutusan asuransi, atau penghentian akses teknologi, bukan sekadar serangan militer.
Perubahan pola peperangan juga tampak nyata. Clausewitz pernah menegaskan perang sebagai alat politik, tetapi dampaknya kini jauh lebih merambat, bahkan ke negara yang tidak terlibat secara langsung. Contohnya, terputusnya ekspor gandum dari Ukraina berdampak ke banyak negara, dan gangguan di Selat Hormuz menyebabkan lonjakan harga energi yang dirasakan Indonesia. Dengan begitu, setiap negara harus waspada bahwa mereka dapat merasakan akibat dari perang yang terjadi di tempat lain.
Hal ini membawa konsekuensi penting bagi strategi pertahanan Indonesia. Jika Indonesia menjadi target, lawan tidak harus menyerang langsung secara militer; mengganggu pelabuhan, suplai energi, jaringan komunikasi, maupun sistem pembayaran sudah cukup untuk melemahkan pertahanan nasional. Namun, risiko yang sama dapat datang dari konflik di kawasan lain—seperti krisis pangan akibat peperangan di Ukraina, atau masalah pasokan energi karena konflik di Timur Tengah.
Militer Indonesia harus menyadari pentingnya mempertahankan ketersediaan rantai pasok strategis, bukan hanya menghitung jumlah pasukan atau alat tempur. Inilah perlunya peralihan perencanaan dari pendekatan sektoral ke fungsional—mengidentifikasi fungsi kritis apa saja yang harus tetap berjalan, simpul mana yang mesti diamankan, dan berapa lama Indonesia sanggup bertahan jika beberapa simpul itu gagal. Adaptasi berikutnya terwujud dalam bentuk cadangan strategis, jalur alternatif, dan skenario pemulihan fungsi vital.
Di negara kepulauan seperti Indonesia, rantai pasok pangan, energi, serta data sangat tergantung kepada jaringan laut, pelabuhan, kilang, pusat data, kabel bawah laut, bahkan sistem pembayaran digital. Risiko bukan sekadar berada di alur laut, melainkan juga pada node-node distribusi antar-pulau, gudang, dan infrastruktur pendukung lainnya. Dengan pengalaman krisis global terkini, Indonesia tidak mungkin memutus semua ketergantungan (interdependensi), melainkan harus memahami mana simpul yang rentan dan memikirkan langkah mitigasi bila terjadi gangguan.
Sejatinya, persiapan pertahanan kini tidak cukup hanya mencari tahu darimana musuh akan menyerang. Pertanyaan yang harus dijawab lebih luas: fungsi strategis apa yang bakal lumpuh bila satu titik rusak, serta seberapa cepat bisa dipulihkan. Anak-anak Indonesia, yang kelak menjadi generasi penerus, membutuhkan infrastruktur yang tangguh agar kesempatan belajar dan masa depan mereka tetap terjaga, seperti akses literasi yang tidak bergantung pada satu sumber. Membiasakan kesiapan menghadapi disrupsi hari ini akan menjaga masa depan bangsa dalam pusaran perubahan global yang penuh tantangan.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas
