China sedang melakukan uji coba kewajiban menggunakan nama asli di media sosial. Kewajiban ini berlaku bagi pengguna yang ingin berkomentar tentang politik dan industri finansial di berbagai platform online.
CEO Weibo, Wang Gaofel, mengungkapkan rencana implementasi kewajiban menggunakan nama asli di media sosial. Weibo adalah media sosial China yang mirip dengan Twitter. China telah memblokir media sosial milik perusahaan asing seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.
Pemerintah China berencana melarang penggunaan akun anonim untuk berkomentar tentang politik dan finansial. Semua pemilik akun media sosial yang ingin menjadi influencer harus mencantumkan nama asli mereka.
Beberapa influencer di Weibo mengungkapkan bahwa aturan ini berlaku bagi akun yang memiliki jumlah pengikut 1 juta atau lebih dan memberikan komentar tentang politik, dunia hiburan, dan industri keuangan.
Para influencer di Weibo tidak mengungkapkan siapa yang mewajibkan mereka untuk menggunakan nama asli. Regulator siber China juga tidak memberikan komentar saat dikonfirmasi oleh Reuters.
Beberapa pengguna Weibo menghebohkan beberapa waktu lalu ketika nama asli Wang muncul di biografi akunnya. Wang kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang perubahan di akunnya tersebut.
China sedang membersihkan media sosial. Meskipun media massa China diatur ketat oleh pemerintah, beberapa kelompok media yang disebut “zimeiti” muncul dalam beberapa tahun terakhir. Zimeiti adalah sekelompok blogger atau influencer independen yang berpengaruh dan fokus pada sektor tertentu dengan jumlah pengikut yang besar.
Otoritas ruang siber China sedang berusaha mengendalikan para influencer ini. Banyak akun media sosial telah ditutup dan platform media sosial yang tidak mengambil tindakan juga diancam dengan denda.
[dem/dem]

