Indonesia’s Vision for 2045: Conditions for Progress and Prosperity

Date:

Indonesia Menuju 2045: Tantangan Keluar dari Jerat Pendapatan Menengah

Target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 tidak cukup didekati dengan optimisme semata. Dalam penggalan buku Strategic Transformation of the Nation: Towards Golden Indonesia 2045, Prabowo Subianto menegaskan bahwa kunci utama ada pada satu hal yang sangat mendasar: pertumbuhan ekonomi yang agresif dan berkelanjutan. Menurutnya, Indonesia harus berani mengejar laju pertumbuhan di atas 6-7 persen, bahkan menuju 10 persen secara konsisten, jika ingin benar-benar naik kelas.

Pertumbuhan Tinggi Jadi Syarat Keluar dari Middle-Income Trap

Prabowo menyebut Indonesia tidak bisa puas dengan pertumbuhan 4 atau 5 persen karena angka itu belum cukup untuk membawa perubahan struktural yang besar. Ia menilai, tanpa lompatan ekonomi yang kuat, Indonesia akan terus terjebak dalam middle-income trap, kondisi ketika sebuah negara berhenti di level pendapatan menengah dan sulit menembus status negara berpendapatan tinggi.

Dalam penjelasannya, ukuran yang dipakai adalah pendapatan per kapita atau GDP per kapita. Pada 2020, GDP per kapita Indonesia tercatat sebesar USD 3.869. Angka itu, menurut hitungan yang dikutip Prabowo, setara dengan pendapatan rata-rata bulanan sekitar USD 322 atau kurang lebih Rp4,5 juta.

Naik Kelas ke Negara Maju Butuh Lompatan Besar

Untuk benar-benar masuk kategori negara berpendapatan tinggi, GDP per kapita Indonesia disebut harus mencapai USD 13.000. Dengan patokan itu, rata-rata pendapatan bulanan warga Indonesia perlu naik menjadi sekitar USD 1.083 atau sekitar Rp14 juta. Prabowo menekankan bahwa jarak dari posisi sekarang ke level tersebut terlalu jauh jika ekonomi hanya tumbuh lambat dari tahun ke tahun.

Ia juga memakai perumpamaan sederhana: seperti tubuh manusia yang harus tumbuh kuat agar mampu bersaing saat dewasa, ekonomi Indonesia pun harus melampaui pertumbuhan seadanya. Jika tidak, Indonesia akan sulit menyiapkan diri untuk bersaing dengan negara-negara maju yang sudah lebih dulu mapan.

Perbandingan dengan Negara Tetangga

Untuk memberi gambaran, Prabowo menyinggung posisi Malaysia dan Singapura. GDP per kapita Malaysia disebut telah mencapai USD 10.401, dengan pendapatan rata-rata bulanan sekitar USD 866 atau sekitar Rp12 juta. Sementara Singapura berada jauh di atas, dengan GDP per kapita USD 59.797 dan pendapatan rata-rata bulanan sekitar USD 4.983 atau kurang lebih Rp69 juta.

Perbandingan ini menunjukkan bahwa jarak Indonesia dengan tetangga di kawasan masih cukup lebar. Karena itu, menurut Prabowo, tantangan Indonesia bukan sekadar menjaga stabilitas, melainkan memastikan mesin pertumbuhan bergerak lebih cepat agar cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak berhenti sebagai slogan.

Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.

Share post:

Subscribe

Popular

Terbaru
Terbaru

Harris Arthur Hedar Kembali Posisi Komisaris Independen WIKA

Harris Arthur Hedar Kembali Dipercaya Jabat Komisaris Independen WIKA Pada...

Raperda DKI: Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan

Gubernur DKI Jakarta Tekankan Pentingnya Raperda untuk Pelindungan Perempuan Jakarta...

Kasus Bea Cukai: KPK Buka Peluang Jerat Pengusaha Rokok

KPK Mendalami Konstruksi Hukum Terkait Dugaan Pemberian Uang dari...

Penanganan Kriminal dan Peredaran Narkoba: Dari Lapas hingga Parkir Liar

Peristiwa Kriminal di Jakarta: Dari Peredaran Narkoba di Lapas...