Strategi Jokowi Hadapi Prabowo agar Relawan Tetap Setia
Di balik pertemuan tertutup antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto, muncul pembacaan politik yang lebih luas: ada upaya menjaga pengaruh lama agar tidak langsung terputus di pemerintahan baru. Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menilai Jokowi diduga tengah berusaha meyakinkan Prabowo agar tidak memberhentikan sejumlah menteri yang memiliki kedekatan dengannya di Kabinet Merah Putih.
Jejak reshuffle yang mulai menjauh dari lingkar Jokowi
Menurut Efriza, reshuffle yang sudah dilakukan Prabowo disebut telah menyingkirkan beberapa tokoh yang selama ini dikenal dekat dengan Jokowi, antara lain Budi Arie Setiadi, Budi Gunawan, dan Dito Ariotedjo. Pergeseran itu, dalam pandangannya, bukan sekadar perubahan komposisi kabinet, melainkan sinyal bahwa pengaruh Jokowi di struktur kekuasaan mulai diuji.
Ia melihat langkah Jokowi sebagai cara untuk memastikan jaringan loyalitas yang selama ini terbentuk tidak segera melemah. Meski tak lagi menjabat presiden, Jokowi disebut masih berkepentingan menjaga keberlanjutan pengaruh politiknya, terutama lewat orang-orang yang berada di posisi strategis pemerintahan.
Pertemuan dua jam di Jakarta Selatan
Kunjungan Jokowi ke rumah Prabowo di Jakarta Selatan pada Sabtu, 4 Oktober 2025, dikonfirmasi oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi. Ia menyebut keduanya bertemu secara tertutup selama sekitar dua jam. Durasi pertemuan yang cukup panjang itu memunculkan spekulasi bahwa pembahasan yang terjadi tidak berhenti pada silaturahmi biasa.
Efriza menilai, komunikasi semacam ini bisa dibaca sebagai negosiasi politik untuk menjaga keseimbangan kepentingan di dalam kabinet. Di sisi lain, pertemuan itu juga dianggap menjadi penanda bahwa hubungan Jokowi dan Prabowo masih menyimpan ruang kompromi, terutama saat isu perombakan kabinet kembali mengemuka.
Isyarat reshuffle berikutnya
Perundingan antara Jokowi dan Prabowo disebut juga membuka kemungkinan lahirnya reshuffle ketiga di pemerintahan. Dalam konteks itu, posisi para menteri yang dekat dengan Jokowi menjadi sorotan karena nasib mereka dinilai bisa sangat bergantung pada hasil komunikasi politik di tingkat elite.
Situasi ini menunjukkan bahwa relasi antara presiden sebelumnya dan presiden saat ini belum sepenuhnya lepas dari kalkulasi pengaruh. Bagi Jokowi, menjaga agar para relawan tetap setia tampaknya bukan hanya soal dukungan moral, tetapi juga soal memastikan jejaring kekuasaan yang dibangun selama ini tidak mudah diputus dalam transisi pemerintahan.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
