Presiden Peru Dina Boluarte resmi kehilangan kursinya setelah Kongres menyetujui mosi pemakzulan yang menudingnya tidak layak memimpin negara. Keputusan itu diambil dalam hitungan jam, menandai babak baru krisis politik Peru yang kembali memakan seorang presiden sebelum masa jabatannya selesai.
Boluarte Dicopot, Jose Jeri Langsung Naik Jadi Presiden
Sidang di Kongres Peru yang dipimpin Ketua Jose Jeri berujung pada keputusan tegas: Dina Boluarte dimakzulkan dengan alasan ketidakmampuan moral untuk memimpin negara. Tak lama setelah itu, Jeri dilantik sebagai presiden baru menggantikan Boluarte. Pergantian cepat ini menunjukkan betapa rapuhnya posisi eksekutif di Peru, di tengah tarik-menarik kepentingan antarfraksi politik yang kembali berujung pada perubahan kekuasaan.
Dalam pidato perdananya sebagai kepala negara, Jeri menyoroti satu isu yang ia sebut sebagai ancaman utama: kejahatan terorganisir. Ia menegaskan perlunya “perang” terhadap geng kriminal, yang menurutnya menjadi musuh paling berbahaya bagi stabilitas Peru saat ini.
Warga Bersorak di Luar Kongres
Di luar gedung Kongres, suasana berlangsung riuh. Ratusan warga berkumpul untuk menyaksikan proses pemakzulan tersebut, dan sebagian dari mereka bahkan merayakannya dengan membawa bendera, menari, serta memainkan alat musik. Momen itu memperlihatkan bahwa keputusan politik di ibu kota Peru bukan hanya soal pergantian jabatan, tetapi juga memantik reaksi publik yang kuat di jalanan.
Di tengah situasi itu, muncul pula spekulasi bahwa Boluarte tengah mempertimbangkan mencari perlindungan ke Kedutaan Ekuador. Meski belum ada kepastian, kabar tersebut ikut menambah panas suasana setelah pemecatannya diumumkan.
Jejak Kontroversi yang Membayangi Boluarte
Dalam pidato terakhirnya, Boluarte mengakui keputusan Kongres yang mencopotnya dari jabatan. Padahal, ia baru terpilih sebagai presiden pada akhir 2022. Namun masa kepemimpinannya sejak awal telah dibayangi tuduhan serius, mulai dari dugaan tindakan ilegal hingga tanggung jawab atas kekerasan aparat dalam penanganan demonstrasi pendukung Pedro Castillo, mantan presiden yang sebelumnya digulingkan.
Boluarte membantah seluruh tuduhan tersebut. Meski begitu, penolakan itu tidak cukup untuk meredam dorongan politik yang akhirnya menyingkirkannya dari kursi kepresidenan.
Pemakzulan Boluarte juga memperpanjang daftar pergantian pemimpin di Peru. Sejak 2016, negara itu sudah mengalami tujuh pergantian presiden, sebuah angka yang menggambarkan betapa tidak stabilnya panggung politik nasional. Dukungan dari partai-partai kanan, termasuk Rafael Lopez dan Keiko Fujimori, turut mempercepat tumbangnya Boluarte. Keduanya disebut-sebut akan maju dalam pemilu presiden pada April 2026.
Source link
