Trem atau kereta kuda merupakan moda transportasi yang populer di era kolonial Hindia Belanda sebelum hadirnya KRL modern. Di Jakarta, trem mulai melayani perjalanan masyarakat sejak Batavia menjadi nama kota tersebut. Pengembangan jalur trem resmi dimulai pada tahun 1869 dan awalnya menggunakan tenaga kuda. Selanjutnya, trem uap menggantikan trem kuda pada 1882 dengan pengelolaan oleh perusahaan swasta Belanda BTM yang kemudian berubah menjadi NITM.
Jalur trem di Batavia melewati titik strategis kota seperti Stasiun Batavia NIS, Glodok, Harmoni, hingga Pasar Baru. Pada tahun 1899, trem listrik mulai diperkenalkan dan digunakan di bawah BETM. Perkembangan trem listrik sangat pesat, mencapai panjang 14 kilometer pada tahun 1909, memberikan efisiensi dan kenyamanan lebih bagi penumpang.
Setelah kemerdekaan Indonesia pada 1945, sistem transportasi di Jakarta mengalami perubahan. Nasionalisasi terhadap perusahaan Belanda, termasuk sektor transportasi trem, melahirkan PPD yang mengambil alih operasional trem di ibu kota. Namun, pada era 1950-an, trem dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan kota modern. Keberadaan bus dianggap lebih fleksibel sehingga trem secara bertahap dihapuskan.
Pada 1961, pemerintah resmi menetapkan fokus transportasi publik di Jakarta pada penggunaan bus dan trem berhenti beroperasi pada tahun 1962. Hilangnya trem menandai akhir dari salah satu bab penting dalam sejarah transportasi Jakarta.
