Di tengah derasnya arus teknologi digital, ancaman judi online justru kian sulit dikenali karena tampilannya sering dibuat seolah-olah aman, menarik, bahkan menggiurkan. Peringatan itu disampaikan Anggota Komisi I DPR, Andina Thresia Narang, dalam webinar Literasi Digital bertema “Bijak Digital Tanpa Judi Online” yang digelar di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.
Judi Online Menyasar Pengguna yang Tak Waspada
Andina menekankan bahwa perkembangan teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi di saat yang sama juga membuka ruang bagi aktivitas ilegal untuk masuk lebih halus ke ruang digital. Judi online, kata dia, kerap dikemas dengan tampilan yang sulit dibedakan dari hiburan biasa sehingga masyarakat mudah terjebak tanpa menyadari risikonya. Kondisi ini dinilai berbahaya, terutama bagi generasi muda yang akrab dengan perangkat digital sehari-hari.
Kerugian Tak Hanya Soal Uang
Menurut Andina, dampak judi online tidak berhenti pada kehilangan finansial. Praktik ini juga dapat memicu kecanduan, mengganggu kondisi psikologis, dan merusak hubungan dalam keluarga. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap remeh karena efek berantainya bisa meluas ke berbagai aspek kehidupan seseorang.
Literasi Digital Jadi Benteng Utama
Dalam pandangannya, pemberantasan judi online membutuhkan kerja sama banyak pihak, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, hingga masyarakat luas. Namun, benteng paling awal tetap ada pada literasi digital. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk mengenali, memahami, dan menghindari berbagai bentuk kejahatan digital agar tidak mudah terseret ke dalam praktik yang merugikan. Bagi Andina, pemahaman digital yang kuat menjadi kunci untuk melindungi publik dari ancaman yang terus berevolusi di dunia maya.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
