Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Tergantung Sentimen Risiko Global
Menurut Bank Dunia, harga emas dan perak sangat sensitif terhadap perubahan sentimen risiko global, permintaan spekulatif, dan kondisi makroekonomi. Dalam laporannya, Bank Dunia mengungkapkan bahwa prospek kedua logam mulia tersebut penuh dengan ketidakpastian.
Risiko Potensial Terhadap Harga Emas dan Perak
Sejak akhir 2025, Bank Dunia telah mempertahankan pandangan negatif terhadap pergerakan harga emas dan perak. Salah satu risiko utama yang diidentifikasi adalah potensi kenaikan inflasi sebagai akibat dari lonjakan harga energi dan komoditas lainnya. Hal ini bisa meningkatkan opportunity cost dalam memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Pelonggaran ketegangan geopolitik juga dapat mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Di samping itu, perlambatan pembelian oleh bank sentral dan tingginya ketergantungan perak pada permintaan industri juga dianggap sebagai risiko terhadap harga kedua logam tersebut. Analis juga memperingatkan tentang potensi penurunan harga yang signifikan, terutama setelah lonjakan permintaan spekulatif sejak awal 2025.
Proyeksi Harga Emas dan Perak
Meskipun terdapat risiko tersebut, dalam jangka pendek, harga emas dan perak masih menunjukkan tren penguatan. Bank Dunia memperkirakan rata-rata harga emas akan mencapai 4.700 dolar AS per ons pada tahun ini, naik sekitar 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, harga perak diproyeksikan berada di kisaran 70 dolar AS per ons, atau melonjak hingga 76 persen secara tahunan.
