Elon Musk kembali menegaskan dominasinya sebagai orang paling kaya di dunia. Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires, kekayaan bos Tesla dan SpaceX itu kini mencapai US$429,2 miliar atau sekitar Rp 6.875 triliun. Angka tersebut membuat Musk melaju jauh di depan Jeff Bezos, pendiri Amazon, yang berada di posisi kedua dengan kekayaan US$186,7 miliar atau sekitar Rp 2.990 triliun.
Dorongan Besar dari Tesla dan SpaceX
Lonjakan kekayaan Musk tidak lepas dari performa dua aset utamanya: Tesla dan SpaceX. Saham Tesla tercatat naik hampir 71%, dan kenaikan itu langsung mengerek nilai kekayaan Musk secara signifikan. Di sisi lain, valuasi SpaceX juga ikut terdongkrak setelah kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden AS.
Tak berhenti di situ, Musk juga memperoleh tambahan dorongan dari penjualan saham SpaceX senilai US$1,25 miliar. Kombinasi faktor-faktor ini membuat posisinya di puncak daftar miliarder dunia semakin sulit dikejar.
Hubungan dengan Trump Jadi Sorotan
Nama Musk juga kembali ramai dibicarakan karena kedekatannya dengan Donald Trump. Bagi sebagian investor Tesla, hubungan itu memunculkan harapan akan hadirnya kebijakan pemerintah yang lebih ramah terhadap dunia usaha. Harapan tersebut ikut mendorong sentimen pasar terhadap bisnis-bisnis yang berada di bawah kendali Musk.
Melalui platform X miliknya, Musk bahkan dikenal sebagai pendonor terbesar yang mendukung kampanye Trump. Faktor politik ini membuat perjalanan bisnisnya tak hanya dipengaruhi pasar dan teknologi, tetapi juga arah kebijakan pemerintah yang bisa memberi keuntungan langsung bagi perusahaan-perusahaan miliknya.
Kerajaan Bisnis yang Bergantung pada Kebijakan
Jejak bisnis Musk memang tersebar di banyak sektor, mulai dari kendaraan listrik, roket, internet satelit, media sosial, hingga teknologi saraf. Tesla, SpaceX, Starlink, X, Neuralink, dan sejumlah perusahaan lain menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam industri modern.
Namun, besarnya kekayaan Musk juga menunjukkan satu hal penting: laju pertumbuhan perusahaan-perusahaannya sangat terkait dengan kebijakan pemerintah. Dalam situasi seperti ini, setiap perubahan regulasi, arah dukungan politik, hingga keputusan ekonomi bisa berdampak langsung pada nilai bisnis yang menopang statusnya sebagai manusia Rp 6.800 triliun.
