Di tengah masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, TP PKK Provinsi Jawa Tengah memilih memperkuat barisan terdepan perlindungan dengan menyiapkan 50 kader paralegal dari PKK Kota Semarang. Mereka dilatih bukan sekadar untuk memahami persoalan, tetapi juga untuk menjadi penggerak Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA) di tingkat kecamatan.
Pelatihan Tiga Hari untuk Bekal Advokasi
Pelatihan bertajuk Pelatihan Paralegal Penggerak RPPA Kecamatan Angkatan II itu digelar selama tiga hari, pada 16-18 Juli 2025, di Aula Lantai 2 Gedung TP PKK Provinsi Jawa Tengah. Selama pelatihan, para peserta mendapat materi dasar keparalegalan yang mencakup kekerasan terhadap perempuan dan anak, hak-hak korban, prosedur pelaporan, hingga langkah pendampingan yang bisa dilakukan di lapangan.
Bekal tersebut disiapkan agar kader tidak hanya paham persoalan secara umum, tetapi juga mampu merespons ketika ada korban yang membutuhkan pertolongan cepat. Dalam praktiknya, keberadaan paralegal diharapkan bisa menjadi pintu awal bagi korban untuk mendapatkan akses bantuan yang lebih mudah dan manusiawi.
Bagian dari Program Kecamatan Berdaya
Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, menegaskan pelatihan ini merupakan bagian dari program Kecamatan Berdaya yang digagas Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat advokasi bagi korban kekerasan perempuan dan anak, sekaligus memastikan layanan perlindungan hadir lebih dekat dengan masyarakat.
Nawal menekankan, kader paralegal diharapkan mampu memberi layanan yang memang dibutuhkan korban, mulai dari pendampingan awal, akses bantuan hukum, sampai rujukan ke layanan medis. Dengan begitu, korban tidak dibiarkan menghadapi persoalan sendirian.
Semarang Jadi Titik Penguatan Jaringan Perlindungan
Di sisi lain, kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah juga disiapkan untuk menghadirkan penyuluh di setiap kecamatan. Langkah ini memperluas jaringan dukungan agar penanganan kasus tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar terhubung dengan layanan di lapangan.
Ketua TP PKK Kota Semarang, Lies Iswar Aminuddin, menyambut positif inisiatif tersebut. Menurutnya, pelatihan ini menjadi langkah penting di tengah kondisi ketika kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terus muncul. Para kader diharapkan bisa berperan sebagai fasilitator sekaligus penghubung korban menuju bantuan dan advokasi yang mereka perlukan.
Dengan model pendampingan berbasis kecamatan, TP PKK Jateng ingin memastikan perlindungan tidak hanya berhenti di level wacana, tetapi hadir melalui kader yang mengenal wilayah, warga, dan kebutuhan korban secara lebih dekat.
Source link
