Buku Rasa Bhayangkara Nusantara Tembus Kedubes Jepang, Diplomasi Indonesia Kian Menguat Lewat Pangan
Diplomasi Indonesia kembali menemukan panggungnya, kali ini lewat sebuah buku yang membawa pesan kebijakan, budaya, dan cita rasa Nusantara sekaligus. Taste of Nusantara: 80 Bhayangkara Menu for Indonesia’s Free Nutritious Meals Program diperkenalkan di Kedutaan Besar Jepang, menandai cara baru Indonesia menyampaikan gagasan strategis ke publik internasional tanpa harus selalu lewat forum politik formal.
Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dedi Prasetyo, membawa langsung buku tersebut dalam acara Buka Puasa Bersama Ikatan Sakura Indonesia (ISI) dan Charge d’Affaires ad interim Kedutaan Besar Jepang pada 4 Maret 2026. Kehadiran buku itu di momen tersebut mempertegas hubungan yang terus dibangun antara Indonesia dan Jepang, termasuk dalam kerja sama reformasi kepolisian melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).
Gastrodiplomasi sebagai Bahasa yang Mudah Diterima
Buku Rasa Bhayangkara Nusantara atau Taste of Nusantara tidak sekadar memuat daftar menu. Di dalamnya, terdapat 80 menu bergizi dari berbagai daerah di Indonesia yang dirangkai sebagai bagian dari narasi besar tentang Program Makan Bergizi Gratis Polri. Melalui pendekatan ini, pesan kebijakan disampaikan dengan bahasa yang lebih hangat, akrab, dan mudah dipahami lintas negara.
Inisiatif ini digagas oleh Wakapolri Prof. Dr. Dedi Prasetyo bersama Dirgayuza Setiawan sebagai alat diplomasi negara. Buku tersebut menempatkan makanan sebagai medium untuk memperkenalkan cara pandang Indonesia terhadap kebijakan publik, keberagaman pangan, dan nilai humanis yang melekat pada program-program strategis nasional.
Jejaknya Sudah Sampai ke Berbagai Kota Dunia
Kehadiran buku ini di Kedutaan Besar Jepang bukanlah satu-satunya panggung internasional yang pernah disinggahi. Jejak Rasa Bhayangkara Nusantara juga disebut terlihat di London, Davos, Washington DC, dan Jeddah. Rangkaian ini menunjukkan bahwa pesan Indonesia melalui budaya dan kuliner tidak berhenti di dalam negeri, melainkan ikut bergerak mengikuti agenda diplomasi yang lebih luas.
Dalam konteks itu, buku ini menjadi simbol kesinambungan diplomasi Indonesia melalui elemen budaya. Ketika isu keamanan, kebijakan sosial, dan identitas nasional dibawa melalui sajian makanan, pesan yang muncul menjadi lebih lentur tetapi tetap tegas: Indonesia ingin dikenal sebagai negara yang mampu mengemas kebijakan dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Makna Strategis di Balik Sajian Nusantara
Di tengah perhatian dunia terhadap isu pangan dan kebijakan sosial, buku ini memberi ruang bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa kekuatan diplomasi tidak selalu lahir dari pidato atau perjanjian. Dari 80 menu yang dihadirkan, tersimpan narasi tentang keberagaman daerah, nilai gizi, dan kemampuan negara menyatukan identitas nasional dalam satu bingkai yang mudah dibawa ke panggung global.
Dengan tampil di Jepang dan berbagai kota dunia lainnya, Rasa Bhayangkara Nusantara memperlihatkan bahwa diplomasi budaya Indonesia terus bergerak, bukan hanya untuk memperkenalkan rasa, tetapi juga untuk menyampaikan gagasan tentang kebijakan, keamanan, dan wajah humanis Indonesia di mata internasional.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
