Komisi VII DPR RI meminta pemerintah lebih luwes menyikapi tekanan yang menghantam industri makanan dan minuman (mamin), terutama saat gejolak global mulai merembet ke biaya produksi dan pasokan bahan baku. Seruan itu mengemuka dalam kunjungan kerja tim reses Komisi VII DPR RI yang dipimpin Ketua Erna Sari Dewi ke PT GarudaFood Putra-Putri Jaya di Gresik.
Ekspor Masih Kuat, Tapi Tekanan Global Mengintai
Dalam pembahasan tersebut, Komisi VII menyoroti kontribusi sektor industri mamin terhadap kinerja ekspor nasional. Berdasarkan data BPS, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India pada Januari–September 2025 mencapai 41,81 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menunjukkan peran penting sektor industri dalam menopang devisa negara, sekaligus menandakan besarnya ketergantungan pada stabilitas pasar luar negeri.
Erna menilai, di balik capaian itu, industri mamin tetap berada dalam posisi rawan karena harus berhadapan dengan berbagai tantangan. Salah satunya adalah kontraksi geopolitik yang dinilai semakin terasa dampaknya terhadap dunia usaha.
Gejolak Internasional Bisa Menekan Biaya Produksi
Ia menyoroti konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi memicu lonjakan biaya produksi di dalam negeri. Dampaknya bukan hanya pada harga bahan baku, tetapi juga pada rantai pasok global yang selama ini menjadi penopang ketersediaan bahan baku impor.
Menurut Erna, situasi ini membuat industri mamin perlu ruang gerak yang lebih fleksibel agar tidak terjebak pada tekanan berlapis. Ketersediaan bahan baku yang tidak stabil dapat mengganggu ritme produksi dan pada akhirnya memengaruhi daya saing produk di pasar.
Pemerintah Diminta Lebih Responsif
Karena itu, Komisi VII mendorong pemerintah mengambil kebijakan yang lebih longgar dan adaptif untuk menjaga keberlanjutan industri. Fokus utamanya adalah memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, pelaku usaha juga didorong untuk memperkuat diversifikasi produk sebagai langkah menghadapi kenaikan biaya produksi. Strategi ini dinilai penting agar industri mamin Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga tetap tumbuh meski tekanan eksternal terus berubah.
Dalam kunjungan ke Gresik tersebut, Komisi VII melihat langsung bahwa tantangan industri tidak lagi sebatas persoalan pasar, melainkan juga soal ketahanan menghadapi perubahan global yang cepat dan kian tidak menentu. Source link
