Pelemahan Investor Eropa Terpicu Lonjakan Harga Energi dan Kekhawatiran Inflasi
Pelemahan investor pasar Eropa terjadi akibat lonjakan harga energi dan kekhawatiran akan inflasi yang semakin meningkat. Spekulasi kenaikan suku bunga bank sentral utama juga turut mempengaruhi pelemahan ini.
Sentimen Pasar Terkait Konflik Iran Memburuk
Kebuntuan dalam negosiasi terkait konflik Iran memberikan dampak buruk terhadap sentimen pasar, sehingga memicu aksi jual di berbagai sektor. Indeks STOXX 50 zona Euro merosot 1,8 persen menjadi 5.825, dengan pelemahan mingguan mencapai 1,5 persen. Sementara STOXX 600 pan-Eropa juga turun 1,6 persen, mengalami koreksi 1 persen sepanjang pekan.
Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di wilayah Euro terjadi setelah pertemuan antara pejabat AS dan China yang gagal menghasilkan langkah konkret terkait konflik Iran. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga minyak dan gas serta memperbesar risiko inflasi di Eropa.
Sektor Industri dan Teknologi Tertekan
Penurunan terjadi di sektor industri dan teknologi, di mana saham perusahaan yang sensitif terhadap biaya energi seperti Siemens, Safran, Airbus, dan Schneider Electric mengalami penurunan antara 2,6 persen hingga 5,5 persen. Saham perusahaan teknologi seperti ASML dan Infineon juga melemah sekitar 4,5 persen akibat meredanya reli saham AI.
Di Jerman, indeks DAX 40 Frankfurt turun 2,1 persen menjadi 23.951, sementara indeks CAC 40 Prancis juga merosot 1,6 persen ke level 7.952. Kekhawatiran stagflasi semakin kuat di kawasan Eropa akibat lonjakan harga minyak.
Saham sektor keuangan dan barang mewah seperti BNP Paribas, Kering, LVMH, Airbus, dan Safran juga turut mengalami penurunan.
Situasi di Inggris
Di Inggris, FTSE 100 turun 2 persen karena kombinasi kekhawatiran inflasi, ketidakpastian arah suku bunga, serta meningkatnya tensi politik domestik. Saham tambang dan perbankan memimpin pelemahan, dengan Fresnillo dan Antofagasta turun lebih dari 10 persen, sementara HSBC, Barclays, dan Lloyds juga berada di zona merah.
