Nama Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Ova Emilia, kembali menjadi sorotan setelah pernyataannya dalam rapat senat terbuka Dies Natalis ke-62 Fakultas Kehutanan UGM memantik perdebatan di ruang publik. Isu yang mencuat bukan semata soal acara akademik itu, melainkan cara Ova menyebut Joko Widodo yang dinilai berbeda dari pernyataannya pada 2022.
Perubahan Penyebutan Jokowi Jadi Sorotan
Dalam unggahan yang dikutip dari akun pribadi Dokter Tifa, Ova Emilia disebut tidak lagi menyematkan gelar Insinyur atau Ir. saat merujuk pada Jokowi. Padahal, pada pernyataannya di tahun 2022, penyebutan itu pernah muncul. Perbedaan inilah yang kemudian memicu tanda tanya dan menjadi bahan komentar di media sosial.
Dokter Tifa juga menyoroti bahwa Ova hanya mengakui Jokowi sebagai alumni UGM angkatan 1980, tanpa menyinggung keterangan lain yang sebelumnya pernah disampaikan. Bagi pihak yang mengkritik, perubahan redaksi itu dianggap tidak konsisten dan menimbulkan kesan adanya penyesuaian narasi.
Dies Natalis dan Tanggal yang Dianggap Janggal
Selain soal penyebutan Jokowi, perhatian publik juga tertuju pada pelaksanaan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM. Dokter Tifa menyinggung bahwa tanggal lahir fakultas tersebut jatuh pada 17 Agustus, namun perayaannya justru digelar pada 17 Oktober 2025, atau dua bulan setelah tanggal yang disebut sebagai hari kelahiran fakultas.
Baginya, selisih waktu itu menjadi bagian dari kejanggalan yang patut dipertanyakan. Dari rangkaian peristiwa tersebut, ia menyimpulkan ada hal-hal yang dianggap tidak wajar dan memunculkan kecurigaan terhadap UGM. Hingga kini, pernyataan itu terus memancing perdebatan karena menyentuh isu sensitif yang berkaitan dengan almamater, gelar akademik, dan legitimasi narasi yang selama ini berkembang di publik.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
