Target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat digadang-gadang bisa melesat hingga 8 persen kembali berhadapan dengan hitung-hitungan yang lebih realistis. Muhammad Syarkawi Rauf, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus mantan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI, menilai proyeksi untuk tahun depan justru masih bergerak di kisaran moderat. Sejumlah lembaga internasional memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8 hingga 5,2 persen, jauh di bawah ambisi tinggi yang kerap muncul dalam wacana publik.
Proyeksi Lembaga Internasional Masih Seragam di Bawah 5 Persen
Syarkawi menyebut OECD dan IMF sama-sama memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,9 persen pada 2025. Bank Indonesia berada dalam rentang 4,6-5,4 persen, sementara pemerintah menargetkan 5,2 persen melalui APBN 2025. Menurutnya, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan masih terbatas dan belum cukup kuat untuk mendekati level 8 persen.
Ia juga menyoroti data kuartalan yang memperlihatkan kecenderungan stagnan. Dalam pandangannya, perlambatan ekonomi nasional tidak lepas dari melemahnya investasi, yang selama ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan. Jika investasi tidak bergerak lebih agresif, laju ekonomi sulit keluar dari pola pertumbuhan yang cenderung datar.
ICOR Tinggi Jadi Sinyal Inefisiensi
Syarkawi menilai persoalan utama ekonomi Indonesia bukan hanya soal besarnya target, melainkan efisiensi yang masih rendah. Hal itu tercermin dari angka Incremental Capital Output Ratio atau ICOR yang disebutnya mencapai 6,245 pada 2025. Menurut dia, angka tersebut tergolong tinggi dan membuat Indonesia membutuhkan modal yang jauh lebih besar untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang sama.
Jika dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, Malaysia, dan India, posisi Indonesia masih tertinggal dalam hal efisiensi investasi. Kondisi ini, kata Syarkawi, memperlihatkan adanya kebutuhan mendesak untuk menurunkan ICOR agar setiap rupiah investasi bisa menghasilkan output ekonomi yang lebih besar.
Reformasi Struktural Jadi Kunci
Ia menegaskan bahwa reformasi struktural tidak bisa lagi ditunda bila Indonesia ingin memperbaiki kualitas pertumbuhan. Pembenahan efisiensi, pengurangan kebocoran, dan perbaikan iklim ekonomi perlu dilakukan secara konsisten. Tanpa langkah tersebut, target pertumbuhan yang lebih tinggi hanya akan berhenti sebagai harapan, sementara realitas ekonomi tetap bergerak di kisaran yang sama dari tahun ke tahun.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
