Sambut Nyepi, Bundaran HI Dipenuhi Parade Ogoh-Ogoh dan Ribuan Peserta
Suasana Bundaran HI berubah semarak saat Parade Ogoh-Ogoh digelar untuk menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 Tahun 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur Rano Karno turut hadir dalam kegiatan budaya yang menjadi hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Suka Duka Hindu Dharma Jakarta Rakyat atau Parisada Hindu Dharma Indonesia.
Ribuan Peserta Warnai Kawasan Bundaran HI
Parade ini melibatkan sekitar 2.000 peserta dengan belasan ogoh-ogoh yang diarak dalam rangkaian perayaan budaya di jantung ibu kota. Kehadiran massa dalam jumlah besar membuat acara tersebut tak sekadar menjadi seremoni keagamaan, tetapi juga ruang pertemuan budaya yang memperlihatkan wajah Jakarta yang majemuk.
Rano Karno menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan bagian dari tradisi menjelang Nyepi. Dalam tradisi itu, ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat negatif yang perlu disucikan sebelum umat Hindu memasuki Hari Suci Nyepi. Makna itulah yang, menurutnya, menjadikan parade ini bukan hanya atraksi visual, melainkan juga pengingat nilai spiritual yang kuat.
Dukungan Pemprov untuk Tradisi dan Kalender Budaya
Rano menegaskan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap penyelenggaraan acara budaya seperti ini. Ia menilai, tradisi dan kebudayaan justru bisa menjadi pengikat di tengah keberagaman warga Jakarta. Karena itu, parade ogoh-ogoh dipandang sebagai bagian penting dari kalender budaya yang diselenggarakan Pemprov DKI sepanjang tahun.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa kegiatan serupa berpeluang digelar lebih meriah pada tahun-tahun mendatang, apalagi menjelang peringatan lima abad Kota Jakarta pada 2027. Menurutnya, momen itu bisa menjadi kesempatan untuk menampilkan Jakarta sebagai kota yang merawat identitas Nusantara tanpa kehilangan semangat kebersamaan.
Harapan Jelang Nyepi
Rano berharap peringatan Nyepi tahun ini dapat berlangsung khidmat sekaligus sukses, dengan semangat yang tetap menonjolkan keberagaman budaya Indonesia. Parade di Bundaran HI pun menjadi penanda bahwa tradisi keagamaan dapat hadir di ruang publik dengan cara yang meriah, tertib, dan sarat makna bagi masyarakat luas.
Artikel ini disusun ulang berdasarkan informasi dari sumber yang telah dipublikasikan sebelumnya.
